Pasang Iklan

2.16.2009

Wajah Pendidikan Kita

Wajib belajar merupakan salah satu program yang gencar digalakkan oleh Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas). Program ini mewajibkan setiap warga negara Indonesia untuk bersekolah selama 9 (sembilan) tahun pada jenjang pendidikan dasar, yaitu dari tingkat kelas 1 Sekolah Dasar (SD) atau Madrasah Ibtidaiyah (MI) hingga kelas 9 Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau Madrasah Tsanawiyah (MTs). Tentu saja tujuannya adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai dengan UUD 1945, Tapi pada kenyataannya masih banyak anak-anak penerus bangsa ini yang menjajakan jasanya untuk sekedar mencari makan siang dengan menyemir sepatu di pinggiran pasar, masih banyak putra-putri negeri ini dengan jari lentiknya memetik gitar, bernyanyi di pinggir lampu merah, di atas bus kota hingga ke rumah-rumah warga demi sekeping rupiah. apakah ini yang diklaim pemerintah sebagai upaya mencerdaskan kehidupan bangsa??? Indonesia merupakan negara yang kaya raya, lautan yang luas dan tanah yang subur sesungguhnya adalah modal yang sangat berpotensi menjadikan Indonesia kaya raya. Tetapi apa yang terjadi di atas sangat bertentangan dengan kekayaan Indonesia yang berlimpah. Mungkin jika bangsa ini dapat memanfaatkan alam Indonesia Dengan tetap mempertahankan kelestarian lingkungan, maka bukan mustahil Pendidikan di Indonesia akan lebih murah bahkan gratis, dengan itu tidak akan ada lagi pemandangan anak-anak jalanan yang dengan berat hati melakukan pekerjaannya. Anggaran pendidikan yang diukir dengan indah dan terajut dalam kesatuan UUD 1945, Tertulis dengan jelas adalah 20% dari APBN, bangsa yang baik adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya, Para Pendahulu kita telah menghasilkan produk unggulan dalam negeri berupa UUD 45', andai saja kita menghargai mereka, maka aggaran 20% untuk pendidikan pasti akan terwujud dengan mudah, tetapi mungkin kita belum sepenuhnya menghargai pahlawan bangsa ini. Negeri ini merdeka pada 17 Agustus 1945, usia yang bisa dikatakan masih muda untuk suatu negara, tetapi yang saya herankan adalah mengapa bangunan sekaloh yang ada di Republik ini tampak tua, tidak terawat, fasilitas tidak memadai bahkan banyak gedung sekolah yang tumbang tertiup angin sepoi-sepoi, beruntung anak bangsa kita ini memiliki kesadaran yang tinggi, mereka prihatin melihat sekolahan yang dahulu jika hujan turun mereka bisa menikmati tetesan air dari celah atap yang penuh lubang, tetapi mereka tidak dapat bernostalgia dengan hal tersebut, karena tempat itu telah rata dengan tanah, oleh karena itu mereka melakukan rapat khusus dengan rekan-rekannyya, dan hasil rapat itu adalah mereka akan tetap sekolah dan belajar walaupun beralaskan tanah dan beratapkan langit, suatu pemandangan yang mengharukan. Dengan kondisi yang mengenaskan seperti ini, apakah kita yakin pendidikan kita dapat berkembang hingga ke pelosok nusantara yang bahkan sinyal handpone yang gratis pun tidak ada, apakah dengan kondisi seperti ini kita dapat meyakinkan penduduk yang hidup di daerah terpencil bahwa dengan sekolah kehidupan kita akan lebih baik?, bahkan untuk makan sehari-hari saja sudah harus menghela nafas yang sangat panjang, apalagi mereka harus membiayai sekolah anak-anaknya yang saat ini terkenal mahal, yang menjadi pertanyaan, sepanjang apa mereka dapat menghela nafas? :D Maraknya kasus tawuran antar pelajar semakin merobek-robek wajah pendidikan negeri ini, seakan-akan mereka yang paling berkuasa, padahal untuk makan saja mereka masih "nodong" orangtua. Dewasa ini kita sering melihat atau mendengar juga kekerasan yang melibatkan para pahlawan tanpa tanda jasa ini, ya lebih populer dengan panggilan Guru (digugu dan ditiru), mereka dengan gagahnya memberi pelajaran yang seharusnya hanya ada dalam sinetron, tamparan mereka kepada muridnya berhasil direkam oleh siswa lain yang mungkin bercita-cita menjadi kameramen, apakah dengan cara kekerasasan para siswa akan sadar dan menjadi baik. Ada istilah "Guru kencing berdiri, Murid kencing berlari", maka tidak heran jika para murid lebih "bandel" dari gurunya. Tapi ini hanya sebagian kecil guru yang ada di Indonesia yang pantas kita sebut sebagai "oknum". Nilai kesopanan yang dahulu dipegang teguh para orangtua kita dahulu mungkin saat ini hanyalah sebuah cerita pernghantar tidur belaka, budaya barat memang sangat pesat berkembang dan mempengaruhi anak-anak bangsa ini, keadaan ini yang mungkin mempengaruhi mental dan prilaku mereka, seharusnya pemerintah harus lebih dapat mengatasi hal ini agar nilai-nilai kesopanan tetap dipertahankan olah bangsa ini.

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih Atas Komentar Anda...

 

Cari Tahu...


Banner

BLOGNYA ONEDEE Copyright © 2009 Community is Designed by Bie

world.gif Pictures, Images and Photos